First trip Gunung Ciremai (3078 mdpl) Kuningan, Jawa Barat Jalur Linggajati

Bismillahirrahmanirahiim

Ini adalah perjalan pertama kami naik gunung  dan inilah awal dibentuknya sekumpulan anak-anak polos yang  memberanikan diri untuk naik gunung, waktu itu kami masih duduk di kelas 1 SMA yang akan naik ke kelas 2, menjelang liburan semester kami sering kumpul-kumpul untuk merumuskan kemana kita akan mendaki dan mendeklarasikan terbentuknya organisasi kami, sesuai kesepakatan setelah berunding ngalor ngidul akhirnya kami putuskan untuk mendaki puncak gunung ceremai yang bertempat di kota Kuningan Jawa Barat dan mempunyai ketinggian 3078 mdpl.

Setelah liburan tiba sekitar tanggal 20 juni 2011 dengan peralatan seadaanya kami Reva wiratama, Khairul fajri syadzily, Lukman hakim, Tofan nur cahyadi, Anas danusana kamal dan Ahmad jamaluddin jambunanda mulai berangkat dari rumah masing-masing pukul 09.00 dan kumpul di terminal kalideres pukul 11.00 sesampainnya di terminal, kami langsung mencari mobil bus jurusan Jakarta-Kuningan, dan ternyata mobil bus yang kami cari tidak ditemukan ujung spionnya dan akhirnya kami berangkat dengan mobil bus jurusan Jakarta-Purwokerto dengan ongkos waktu itu Rp.35.000 kami berangkat pukul 12.00 dan sampai di gerbang tol ciperna pukul 18.00 Wib perjalanan yang melelahkan untuk bocah seukuran kami, dari situ kami langsung cari masjid untuk shalat maghrib plus isya dan setelah melaksanakan ibadah, breaving dan do’a bersama, kami langsung carter mobil angkot menuju pintu gerbang pendakian linggarjati.

 Sebenarnya ada 3 jalur pendakian Gunung Ciremai yaitu dari jalur Palutungan di desa cisantana cigugur, jalur lingarjati di desa lingarjati yaitu dekat museum konferensi lingarjati pada zaman Belanda yang keduanya masih masuk dalam kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan satu lagi jalur Apuy yang berada di kabupaten Majalengka, menurut informasi yang kita dapat jalur lingarjati adalah jalur yang paling terjal dan menantang dari ketiganya, tetapi lebih dekat dapat dicapai sekitar 6-8 jam dan jalur palutungan yang lebih landai dapat memakan waktu 8-11 jam dan keduannya yang dianjurkan oleh dinas PERHUTANI,  tetapi karena teman kami ada yang asli kuningan dan rumahnya dekat jalur lingarjati terpaksa kami melalui jalur lingarjati sekalian mampir dan silaturahmi.

Tepat pukul 21.05 kami sampai di pintu gerbang pendakian dengan perasaan ragu dan was-was karena waktu sudah malam ingin rasanya kami mundur pulang tidak jadi mendaki, tetapi dengan semangat teman-teman dan semangat dari penjaga gerbang Pak momon yang kami temui saat melakukan registrasi, kemudian beliau berpesan “ Sudah jalan saja terus walaupun malam disana rame kok banyak pendaki lain dan saya pesan jika kalian sudah sampai hutan lalu melihat burung gagak hitam jangan kalian kejar dan jangan berkata yang tidak perlu juga jangan sombong”, pesan pak momon malah membuat kami tambah ingin mendaki karena mungkin disana rame banyak orang yang mendaki. Kami pun langsung berdo’a, memberikan nasehat satu sama lain dan Bismillahirrahmanirrahiim senter dinyalakan kami pun berangkat, perjalanan pertama belum begitu terjal sampai kami memasuki hutan pinus dan pos pertama cibunar, disini terdapat sumber mata air terakhir karena tidak ada lagi mata air diatas kecuali dari jalur apuy dan palutungan yaitu di pos cigowong dan goa walet, dan idealnya kami harus membawa 5 liter/org. Setelah melewati pos cibunar kami melewati perkebunan penduduk yang kita lihat waktu itu hanya kebun kopi karena begitu gelap kami tidak sempat melihat kearah samping setelah menempuh sekitar satu jam kami pun sampai di pos leuweung datar (1285 mdpl) setelah istirahat sejenak kami malanjutkan perjalanan walaupun keadaan begitu dingin sampai kami tiba di pos berikutnya condang amis (1350 mdpl)

Udara dingin mulai menusuk dan kami tidak boleh istirahat terlalu lama karena akan membuat tubuh kita dingin dan keram untuk digerakan, kami pun terus melanjutkan perjalanan sampai menemukan pertigaan dan bingung arah mana yang harus dipilih akhirnya ada dua utusan yang pergi ke masing-masing jalan untuk memastikan jalan mana yang benar, dan keputusan telah didapat kami ambil jalan ke kiri karena itu dibuktikan dengan adanya sampah plastik makanan berserakan di sepanjang jalan dan kami pun tiba di pos selanjutnya pada pukul 01.36 wib kami tidak tahu pos apa itu tetapi kami tersentak kaget saat melihat plang bertulisakan pos kuburan kuda disini ada banyak tempat yang pas untuk mendirikan tenda tetapi kami harus tetap jalan untuk mengejar sun rise di puncak.

 Semakin kami jalan terus perjalanan semakin menanjak kemudian kami pun sampai di pos pangalap tidak banyak mengambil istirahat disini kami langsung tancap ke pos selanjutnya yaitu tanjakan binbin disini energi perlu dikerahkan karena sesuai dengan namanya tanjakan binbin dengan jalur menanjak berbatu harus kami lewati, dan belum sampai disitu kami juga harus melewati pos berikutnya tanjakan seruni yang lumayan menguras tenaga dan stamina, setelah melewati kedua pos tersebut sekitar pukul 03.00 Wib karena sangkin lelahnya kami pun tertidur serempak sampai tiba pukul 04.20 dan sampai salah seorang dari kami jamal terbangung dan langsung bergegas membangunkan kami semua dengan stamina seadanya kami melanjutkan perjalanan sampai matahari terbit dan  masih belum mencapai puncak sampai pada pukul 06.30 tiba di pos bapa tere disana kami bertemu dengan 6 orang pendaki dari Cirebon yang kami heran mereka tidak membawa carrier dan peralatan seperti para pendaki umumnya mereka hanya berbekal air mineral 6 botol.

 Setelah bercerita sejenak kemudian melanjutkan perjalanan sampai tiba di pos batu lingga dan kami putuskan untuk ngecamp disana, menurut cerita disana adalah tempat berdakwahnya sunan gunung djati dan yang membuat kami terkejut disana terdapat batu nisan dua orang yang meninggal, kami pun melanjutkan perjalanan dengan meninggalkan tenda dan carrier kami didalamnya , hanya membawa hand bag, air mineral dan makanan secukupnya.

Perjalanan selanjutnya yang kami tempuh lumayan menanjak sampai tiba di pos sangga buana bawah dan melanjutkan lagi sampai di pos sangga buana atas dari sini jalan mulai berbatu dan terjal ketinggian kurang lebih 45 derajat kami harus marayap untuk mendaki sampai tiba di atas pemandangan indah pun mulai terlihat sampai kami tiba di pos sebelum puncak Pangasinan (2860 mdpl) dari sini kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah sekali mulai dari laut jawa, kota-kota di jawa barat, gunung Slamet dan gunung-gunung di Jawa Barat juga banyak ditumbuhi bunga edelweiss, dan terbayar sudah semua lelah kami setelah semalaman berjalan di tengah hutan yang memakan waktu kurang lebih 11 jam dan disini juga kami mendeklarasikan terbentuknya perkumpulan kami yang diberi nama “Nature Adventure of Islamic Teenager, dari sini kami sepakat untuk tidak terus sampai puncak karena energi dan stamina yang sudah habis. Setelah menikmati pemandangan yang begitu indah kami pun turun kembali menuju pos awal dengan waktu 6 jam dan langsung bergegas untuk menginap di rumah teman kami.

Next trip Gede-Pangrango (2958-3019 mdpl) Cianjur, Jawa Barat

Iklan

One thought on “First trip Gunung Ciremai (3078 mdpl) Kuningan, Jawa Barat Jalur Linggajati

Komentar untuk Tulisan ini !!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s